Amanat
artinya setiap yang dibebankan kepada manusia dan mereka diperintahkan
memenuhinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya menunaikan
amanat secara sempurna tanpa menguurangi. Termasuk ke dalam amanat adalah
amanat beribadah (seperti shalat, zakat, puasa dsb.), amanat harta, amanat
untuk dirahasiakan dsb. Contoh menunaikan amanat dalam hal harta adalah dengan
menjaganya dan mengembalikan kepada pemiliknya secara utuh, sedangkan amanat
dalam rahasia adalah dengan menyembunyikannya; tidak membukanya. (Redaksi, www.khotbahjumat.com)
***
بسم الله الرحمن الرحيم
Akhlak Islami
KHUTBAH
PERTAMA
إِنَّ
الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.
“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”
أما بعد
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.
“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”
أما بعد
Jama’ah
Jumat rahimakumllah
Syariat Islam adalah syariat yang
lengkap dan sempurna. Ia tidak hanya mengajarkan manusia aqidah dan ibadah yang
benar saja, tetapi juga mengajarkan akhlak yang mulia. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:
لَّيْسَ
الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ
الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ
وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ
وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي
الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ
إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ
وَحِينَ الْبَأْسِ ۗأُولَـٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَـٰئِكَ
هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴿١٧٧﴾
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan
wajahmu ke arah Timur dan Barat. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah
beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi,
dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang
meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan
zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan
orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
Mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang
yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 177).
Pengajaran tentang aqidah
ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, “Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu
ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi.”
Pengajaran tentang ibadah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat;…dst.
Sedangkan pengajaran tentang akhlak ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan…dst.”
Pengajaran tentang ibadah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat;…dst.
Sedangkan pengajaran tentang akhlak ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan…dst.”
Ayat di atas menunjukkan bahwa orang
yang baik di sisi Allah adalah orang yang hubungannya dengan Allah baik dan
hubungannya dengan manusia pun baik. Tidaklah dinamakan orang yang baik di sisi
Allah, jika dalam bergaul dengan manusia ia bergaul dengan cara yang baik,
tetapi hubungannya dengan Allah tidak baik, atau hubungannya dengan Allah baik,
tetapi akhlaknya terhadap manusia buruk. Dengan demikian, aqidah dan ibadah
memiliki hubungan yang erat dengan akhlak, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
أَكْمَلُ
الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna
imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu
Hibban dan Hakim, Shahihul Jaami’ no. 1230)
Hadits ini menunjukkan bahwa semakin
tinggi iman seseorang, maka semakin baik pula akhlaknya, dan bahwa akhlak
yang buruk menunjukkan kekurangan pada imannya. Demikian juga menunjukkan bahwa
akhlak
merupakan refleksi keimanan dan buahnya.
Jamaah Jumat rahimani wa
rahimakumullah.
Berikut ini di antara akhlak yang diperintahkan oleh Islam:
Berikut ini di antara akhlak yang diperintahkan oleh Islam:
1. Berlaku Jujur Apa Adanya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
عَلَيْكُمْ
بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي
إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى
يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا
“Hendaklah kamu berlaku jujur,
karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa seseorang ke
surga, dan jika seseorang selalu berlaku jujur serta memilih kejujuran sehingga
akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.” (HR.
Bukhari-Muslim)
2. Menunaikan Amanah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ
اللَّـهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا
حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّـهَ
نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا﴿٥٨﴾
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…dst.” (QS. An NIsaa’: 58)
Amanat artinya setiap yang
dibebankan kepada manusia dan mereka diperintahkan memenuhinya. Allah Subhanahu
wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya menunaikan amanat secara sempurna tanpa
mengurangi. Termasuk ke dalam amanat adalah amanat beribadah (seperti shalat,
zakat, puasa dsb.), amanat harta, amanat untuk dirahasiakan dsb. Contoh menunaikan
amanat dalam hal harta adalah dengan menjaganya dan mengembalikan kepada
pemiliknya secara utuh, sedangkan amanat dalam rahasia adalah dengan
menyembunyikannya; tidak membukanya.
3. Menepati Janji
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَلَا
تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ
أَشُدَّهُ ۚ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ
مَسْئُولًا ﴿٣٤﴾
“Dan penuhilah janji; sesungguhnya
janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya.” (QS. Al Israa’: 34)
Menyalahi janji adalah salah satu
ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
آيَةُ
الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا
اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik itu tiga; jika
berbicara berdusta, jika berjanji menyalahi dan jika dipercaya khianat.” (HR.
Bukhari-Muslim, dan dalam riwayat keduanya dari hadis Abdullah bin ‘Amr ada
tambahan “Dan jika bertengkar berbuat jahat.”)
4. Tawadhu’ (berendah diri)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
لَا
تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلَا
تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ ﴿٨٨﴾
“Dan berendah dirilah kamu terhadap
orang-orang yang beriman.” (QS. Al Hijr: 88)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
إِنَّ
اَللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا, حَتَّى لَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى
أَحَدٍ, وَلَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan
kepadaku untuk bertawadhu’, sehingga tidak ada lagi orang yang bersikap sombong
dan angkuh terhadap yang lain.” (HR. Muslim)
5. Berbakti Kepada Orang Tua
وَوَصَّيْنَا
الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ
فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ ﴿١٤﴾ وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن
تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖوَصَاحِبْهُمَا
فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ
إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ
تَعْمَلُونَ ﴿١٥﴾
“Dan Kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu.—Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu
yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…dst.” (QS. Luqman:
14-15)
6. Menyambung Tali Silaturrahim
(Hubungan Kekeluargaan)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَنْ
أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي
أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan
rezkinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturrahim.” (HR.
Bukhari)
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH
KEDUA
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ
مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ
اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Jamaah Jumat rahimani wa
rahimakumullah
Pada khotbah kedua ini khatib akan
menyebutkan beberapa lagi akhlak-akhlak mulia yang apabila kita terapkan di masyarakat maka hal itu
akan memperbaiki hubungan sesama kita.
7. Berlaku Baik kepada Tetangga
8. Memuliakan Tamu
Dalil berbuat baik kepada tetangga
dan memuliakan tamu disebutkan dalam hadits berikut:
مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكِْرمْ ضَيْفَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada
Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam. Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia muliakan
tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka
hendaknya ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari-Muslim)
9. Dermawan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
إِنَّ
اللهَ تَعَالَى جَوَّادٌ يُحِبُّ الْجُوْدَ وَ يُحِبُّ مَعَالِيَ الْأَخْلاَقَ وَ
يَكْرَهُ سَفْسَافَهَا
“Sesungguhnya Allah Ta’alah Maha
Pemurah, Dia mencintai sifat pemurah (dermawan), Dia mencintai akhlak yang
tinggi dan membenci akhlak yang rendah.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan
Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, Shahihul Jaami’ no. 1744)
10. Santun dan Pemaaf
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَلَا
يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ
وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ ۖ وَلْيَعْفُوا
وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّـهُ
لَكُمْ ۗوَاللَّـهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٢٢﴾
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan
berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An
Nuur: 22)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَا
نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.
Allah tidaklah menambahkan hamba-Nya yang selalu memaafkan kecuali kemuliaan,
dan tidaklah seseorang bertawadhu’ karena Allah kecuali Allah akan
meninggikannya.” (HR. Muslim)
11. Mendamaikan Manusia
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
أَلاَ
أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَ الصَّلاَةِ وَ الصَّدَقَةِ ؟
إِصْلاَحُ ذَاتَ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذاَتَ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ
“Maukah kamu aku beritahukan hal
yang lebih utama dari derajat puasa, shalat dan sedekah (sunat)? Yaitu
mendamaikan orang yang bermusuhan, karena merusak hubungan adalah yang
memangkas (agama).” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh
Al Albani no. 2595)
12. Malu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
اَلْحَيَاءُ
مِنْ اَلْإِيمَانِ
“Malu termasuk bagian dari iman.”
(HR. Bukhari-Muslim)
اَلْحَيَاءُ
لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ
“Malu tidaklah mendatangkan selain
kebaikan.” (HR. Bukhari-Muslim)
13. Berkasih Sayang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
اِرْحَمُوْا
مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Sayangilah makhluk yang ada di
bumi, niscaya yang ada di atas langit (Allah) akan menyayangimu.” (HR. Ahmad,
Abu Dawud, Tirmidzi, dan Hakim, Shahihul Jami’ no. 3522)
14. Berlaku adil.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ
اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ
وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴿٩٠﴾
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu)
berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu
agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl: 90)
15. Menjaga Kesucian Diri (Iffah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
اِضْمَنُوْا
لِيْ سِتَّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمُ الْجَنَّةَ اُصْدُقُوْا إِذَا
حَدَّثْتُمْ وَ أَوْفُوْا إِذَا وَعَدْتُمْ وَ أَدُّوْا إِذَا ائْتُمِنْتُمْ وَ
احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ وَ غَضُّواْ أَبْصَارَكُمْ وَ كُفُّوْا أَيْدِيَكُمْ
“Berjanjilah untukku untuk melakukan
enam perkara, niscaya aku akan menjanjikan kamu surga; berkatalah yang benar ketika kamu
berbicara, penuhilah janji ketika kamu berjanji, tunaikanlah amanat ketika kamu
diamanati, jagalah kehormatanmu, tundukkanlah pandanganmu dan tahanlah tanganmu
(dari melakukan yang tidak dibolehkan secara syara’).” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban,
Hakim dan Baihaqi dalam Asy Syu’ab, dan dihasankan oleh Al Albani dalam
Shahihul Jaami’ no. 1018).
إِنَّ
اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ
ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar